Toko Buku Online Terlengkap

Selasa, 20 Maret 2012

Sebuah catatan Kumbang tomcat Paederus fuscipes

Masyarakat cukup dibuat khawatir dengan berita Kumbang tomcat Paederus fuscipes yang terjadi di Jawa Timur. Dikutip dari kompas.com, data Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI, jumlah pasien yang menderita luka akibat kontak dengan serangga Tomcat hingga Senin (19/3/2012) mencapai 48 orang. Setelah diperiksa ke website www.penyakitmenular.info didapatkan informasi mengenai Kumbang Tomcat ini pernah juga terjadi di Tulungagung tahun 2008, di areal perumahan yang di kelilingi oleh kebun tebu, penderita sebanyak 260 orang, kemudian terjadi lagi pada tahun yang sama di Tulungagung di Kecamatan Besuki di daerah pedesaan, dengan habitat sekitarnya adalah terdapat tanaman padi dan jagung, penderita sebanyak 60 orang dengan gejala berupa gatal-gatal yang didahului oleh gejala panas/iritasi, bintik-bintik, gatal, berair dan menimbulkan bekas hitam pada kulit. Pada tahun 2009 di Kota Gresik terdapat di Rumah Susun terdapat penderita gatal sekitar 50 orang,kemudian terjadi lagi di Surabaya di Kenjeran pada tahun 2010 penderita sekitar 20 orang. Tanggal 13 Maret 2012, dinfokan telah ada seorang penghuni Apartemen Eastcoast Pakuwon City mengalami gatal-gatal, luka dibagian wajahnya, tubuh, lengan dan terasa panas yang ditimbulkan oleh cairan beracun serangga Tomcat. Sabtu tanggal 17 Maret 2011, serangga Tomcat diketahui juga menyerang kawasan sekolah di Kenjeran dan beberapa lokasi di Wonorejo Surabaya, termasuk pangkalan taksi kota. Apakah serangan Kumbang Tomcat akan menjadi suatu KLB? Sepertinya Dinkes Jawa Timur belum menetapkan karena tim masih melakukan identifikasi dan mencari angka penderita di lapangan. Informasi mengenai Kumbang Tomcat dari Dinkes Jawa Timur bisa didownload disini atau di website resmi Dinkes Jawa Timur.

Dari Detik.com. Dr Tri Yunis Miko, W, MSc selaku dosen epidemiologi di FKM UI menuturkan setiap serangga memang memiliki peran dalam penularan penyakit termasuk dengan tomcat. Serangga ini memiliki racun yang bisa menimbulkan reaksi di kulit.Dr Tri menuturkan secara kesehatan cara pencegahannya adalah dengan melakukan penyemprotan insektisida untuk mematikan serangga serta menghindari kontak langsung dengan serangga. Pestisida yang disemprotkan ini adalah nabati yang biasanya mengandung laos, daun mimba dan sereh yang bertujuan untuk mematikan serangga Tomcat yang sudah meresahkan warga. Selain itu hal lain yang bisa dilakukan sebagai bentuk pencegahan adalah melalui perilaku masyarakat misalnya dengan menutup pintu serta jendela sebelum menyalakan lampu rumah, karena tomcat termasuk jenis serangga yang mengikuti cahaya lampu. 

Kenapa serangan Tomcat semakin hebat dari tahun ke tahun? Aktivis lingkungan kota Surabaya, Wawan Some, Selasa (20/3/2012) menjelaskan, awalnya penyebaran tomcat diduga karena burung sebagai pemangsa utama hilang, namun dari banyak referensi yang ada, ternyata pemangsa utama tomcat adalah tokek. Analisa lain, maraknya pembukaan hutan mangrove di sisi Pantai Timur Surabaya, atau semakin menipisnya lahan semak belukar yang dipakai untuk lahan perumahan, memaksa serangga ini bermigrasi mencari habitat baru. ''Indikasi paling mudah untuk menganalisa fenomena serangan tomcat itu adalah, jika populasi di alam tinggi, maka pemangsanya yang hilang, namun jika populasinya rendah, maka habitatnya yang hilang,'' kata aktivis Komunitas Nol Sampah ini. Serangan tomcat maupun ulat bulu, kata dia, membuktikan hilangnya keseimbangan ekosistem yang penyebab utamanya dipastikan oleh ulah manusia. ''Semua mahkluk di bumi ini memiliki fungsi penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem, ini yang harus dipahami oleh semua orang,'' ujarnya.

Sabtu, 10 Maret 2012

Peta kasus Sebaran Kasus Difteri Jawa Timur per 24 Nov 2011

Kasus difteri telah menjadi KLB di Jawa Timur. Jumlah kasus pertanggal 24 November 2011 dilaporkan 511 kasus di 38 Kabupaten/Kota dengan kematian dilaporkan sebanyak 12 kasus meninggal dunia (http://dinkes.jatimprov.go.id). Dikutip dari kompas.com Imunisasi untuk memberikan kekebalan penyakit difteri sudah ada dalam paket vaksin DPT pada setiap balita yang dijangkau paparan vaksinasi dengan cakupan yang cukup besar, 90-100 persen. Akan tetapi, respons setiap individu anak bisa berbeda, berhubungan dengan jadwal imunisasi yang kurang tepat, atau tubuh anak sendiri yang bisa saja tidak bereaksi menumbuhkan kekebalan. (Imunisasi Difteri Bisa Saja Tidak Efektif)
Pakar penyakit tropik dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof Ismoedijanto menuturkan, penyakit difteri juga pernah menyebar di Eropa. Dengan program imunisasi yang berkelanjutan, kasus penularannya terus menurun. Idealnya imunisasi bisa menjangkau sasaran sampai 95 persen. Sedangkan saat ini, di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur masih ada daerah-daerah yang belum mendapat imunisasi.(Penanggulangan Difteri Butuh 3 Tahun)


Jika melihat peta sebaran kasus jelas terlihat kabupaten kota sekitar pulau madura memiliki jumlah penderita yang cukup tinggi dan juga tercatat jumlah kematian penderita difteri. Perlu analisa lebih lanjut apakah surveilans telah dilakukan dengan baik dan benar dalam mendeteksi difteri untuk kabupaten kota yang masih  melaporkan kasus penderita dan kematian kasus difteri dalam jumlah sedikit.

Kamis, 08 Maret 2012

Download antropometry (WHO Anthro) software WHO

Tugas Gizi Kesehatan Masyarakat kali ini menggunakan software Antropometry yang bisa didownload disitus WHO dengan alamat http://www.who.int/childgrowth/software/en/ . Software ini ada versi untuk Mac, PC dan Linux. Pastikan untuk mendowload sesuai dengan OS komputer yang digunakan.

Software antropometry (WHO Anthro) sekarang sudah mencapai versi 3.2.2 yang dipublish Januari 2012. Untuk menggunakan sofware WHO Anthro silahkan baca petunjuk yang telah tersedia atau bisa lihat video tentang software WHO Anthro dibawah ini


Senin, 30 Januari 2012

Peningkatan Kasus Difteri di Jawa Timur

Kejadian Luar Biasa Difteri (KLB) difteri yang terjadi di Jawa Timur sampai dengan November 2011 telah menelan korban meninggal sebanyak 12 orang (dinkes.jatimprov.go.id) . Penyakit difteri cepat sekali menular melalui berbagai media, sebagian besar melalui bercak ludah (droplet ) yang dikeluarkan sewaktu bersin atau batuk, atau juga kumannya sendiri yang ikut beterbangan dan terhirup.Difteri adalah suatu penyakit bakteri akut, yang bisa menyebabkan kematian. Kasus Difteri di Jawa Timur saat ini merupakan KLB (Kejadian Luar Biasa). Data per 24 November 2011 terdapat 511 kasus di 38 Kabupaten/Kota, 12 di antaranya meninggal dunia (data per Kabupaten/Kota bisa didownload di bagian bawah halaman ini). Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo, SH., M.Hum melalui Rapat Koordinasi yang dilaksanakan tanggal 8 Oktober 2011, yang dihadiri oleh seluruh jajaran kesehatan di Provinsi Jawa Timur menyatakan bahwa tanggal 10 Oktober 2011 ditetapkan sebagai awal dimulainya Gerakan Penanggulangan KLB Difteri secara serentak di 38 Kabupaten/Kota.

Kecenderungan kasus Diphteri selalu naik di Jawa Timur dari tahun ke tahun. Tahun 2003 (5 kasus), Tahun 2004 (15 kasus), Tahun 2005 (33 kasus), Tahun 2006 (43 kasus), Tahun 2007 (86 kasus), Tahun 2008 (77 kasus 11 kematian), Tahun 2009 ( 140 kasus /8 kematian), tahun 2010 ( 304 kasus/21 kematian) dan s/d 9 Oktober 2011 ( 333 kasus / 11 kematian).

Dikutip dari Kompas.com, pakar penyakit tropik dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof Ismoedijanto menuturkan, difteri adalah penyakit infeksi karena bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyakit ini bisa menular dengan sangat cepat sehingga saat masuk rumah sakit, pasien difteri biasanya diisolasi. Penyakit ini juga mematikan. Jika infeksinya berat, maka seseorang yang tertular bisa meninggal pada hari ketiga atau keempat. Penderita rata-rata meninggal karena bakteri mengeluarkan racun yang mengganggu fungsi jantung, ginjal, atau pernapasan.


Orang-orang yang berada pada risiko tertular difteri meliputi: Anak-anak dan orang dewasa yang tidak mendapatkan imunisasi terbaru, Orang yang hidup dalam kondisi tempat tingal penuh sesak atau tidak sehat, Orang yang memiliki gangguan sistem kekebalan, Siapapun yang bepergian ke tempat atau daerah endemik difteri

Rabu, 11 Januari 2012

Kuliah hari ke 1 di URINDO (11 November 2011) - KM 1225 Konsep Dasar K3

Kata Kunci : Pekerja, Sehat, Selamat, Sejahtera, Produktif, Kompetitif, Organisasi, Sustainable development, Manajemen Resiko, AREP, Hazard, tubuh pekerja, perilaku kesehatan, lingkungan, ergonomik, pengorganisasian pekerjaan, budaya kerja

Materi kuliah konsep dasar K3 mencakup Pengertian, Tujuan, Manfaat K3, Ruang Lingkup K3 dan Ilmu penunjang K3. Buku yang digunakan selama perkuliahan ini adalah Teori dan Aplikasi Kesehatan Kerja oleh DR.Dr. Melly Kurniawidjaja, M.Sc, Sp.OK



Buku ini memberikan pemahaman yang komprehensif tentang kesehatan kerja dan tentang bagaimana pelaksanaan upaya kesehatan kerja di dunia usaha dan dunia kerja dapat mempertahankan serta meningkatkan kapasitas kerja dan kesehatan pekerja, serta cara mencegah penyakit pada pekerja. dimulai dengan konsep dan teori, diikuti dengan penjelasan yang komprehensif tentang aplikasinya dilapangan.

Selasa, 10 Januari 2012

Ilmu Kesehatan Masyarakat (M.Kes) Pasca Sarjana URINDO

Program studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Program Pascasarjana URINDO berdiri pada tanggal 21 Mei 2000 dan mendapatkan ijin penyelenggaraan dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi dan Kebudayaan melalui Surat Keputusan No. 2598/D/T/2001 dengan nama Magister Kesehatan Masyarakat dan telah mengalami beberapa kali perpanjangan yaitu tahun 2004, 2007 dan tahun 2010 dengan SK Dirjen DIKTI No. 3981/D/T/K-III/2010. Pada tahun 2006, program studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Program Pascasarjana URINDO telah mendapatkan status akreditasi dari BAN-PT No. 014/BAN-PT/Ak-IV/S2/I/2006 dan telah dilaksanakan akreditasi ulang serta mendapat SK BAN-PT No. 006/BAN-PT/Ak-VII/S2/VII/2009.

 Tahun Akademik 2010/2011, program studi Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) Program Pascasarjana URINDO, telah memasuki angkatan ke sebelas (XI) dan telah meluluskan Magister Kesehatan Masyarakat (M.Kes) sebanyak 288 (lulusan tahun 2004-2010) yang tersebar di perbagai wilayah Indonesia seperti Aceh, Riau, Pekanbaru, Medan, Palembang Lampung, Jakarta, Bekasi, Tangerang, Serang, Bandung, Tasikmalaya, Banten,Sumedang, Indramayu, Cirebon, Yogyakarta, Kalimantan, dan Papua . Para alumni program studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Program Pascasarjana URINDO tersebut, bekerja di perbagai instansi pemerintah antara lain di Departemen Kesehatan, Departemen Sosial, Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Rumah Sakit Umum Daerah, Rumah Sakit Gatot Soebroto, Perguruan Tinggi Swasta (Sekolah Tinggi Kesehatan), Balai Besar Tehnik Kesehatan Lingkungan, serta Palang Merah Indonesia.

Informasi selengkapnya mengenai Peluang kerja dan Biaya Ilmu Kesehatan Masyarakat (M.Kes)  Pasca Sarjana URINDO bisa dilihat di situs www.urindo.ac.id